IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

18 Oct 2021, 06:38 WIB

Neraka Dunia itu Manusia yang Menciptakan

Iman mengajarkan kewajiban merawat kehidupan dan lingkungan.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Kali ini, mereka tidak berbicara radikalisme, ekstremisme, terorisme, dan semacamnya. Juga bukan bagaimana meredam konflik antarpemeluk agama dan kepercayaan. Pun bukan soal kerja sama menciptakan harmonisasi kehidupan umat beragama.

Ini mengenai alam dan lingkungan, yang menurut mereka, dalam bahaya. Mereka pemimpin agama dari berbagai belahan dunia. Ada Paus Fransiskus dari Vatikan dan Sheikh Al Azhar, Mesir, Prof Dr Sheikh Ahmad Tayeb.

Pada 4 Oktober lalu, mereka menandatangani dokumen Seruyan bersama, dalam pertemuan di Vatikan bertema ‘Iman dan Ilmu Pengetahuan: Menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26’.

Dokumen ini terwujud setelah berbulan-bulan diskusi antara pemimpin agama dan sekelompok ilmuwan, membahas tantangan yang mengancam masa depan umat manusia, terkait kerusakan alam dan lingkungan.

Pertemuan ini untuk memberi masukan dan pengayaan bagi COP26. Yang terakhir ini pertemuan para pihak, yaitu forum tingkat tinggi tahunan bagi 197 negara untuk membicarakan perubahan iklim dan bahayanya.

COP26 menandakan pertemuan ke-26 sejak Konvensi PBB itu berlaku 21 Maret 1994. Tahun ini, dilangsungkan di Glasgow, Skotlandia, pada awal November 2021. Sebagai pemimpin agama, seruan mereka akan berdampak pada jutaan orang.

Bukan sebatas tingkat spiritual umat, tapi juga kebiasaan sehari-hari mereka yang tak ramah terhadap lingkungan. Survei terbaru, dikutip BBC Arabic mengungkapkan, delapan dari 10 orang di seluruh dunia menganggap diri mereka religius.

 
Dokumen ini terwujud antara pemimpin agama dan sekelompok ilmuwan, membahas tantangan yang mengancam masa depan umat manusia, terkait kerusakan alam dan lingkungan.
 
 

Ini membuktikan meskipun agama tak lagi dominan seperti dulu di banyak negara, ia masih berpengaruh besar. Survei diselenggarakan setelah Covid-19 mewabah di seluruh dunia. Ini bisa diartikan saat manusia menghadapi bahaya besar, religiusitas meningkat.

Pertanyaannya, apa makna peningkatan religiusitas ini bagi gerakan mencegah kerusakan alam? Bisa saja, ada orang menganggap kerusakan alam sebagai pertanda kiamat atau akhir dunia sudah dekat. Dengan logika itu, membiarkan kerusakan bumi.

Di sinilah, sebagaimana dinyatakan dalam pertemuan di Vatikan tadi, diperlukan peran pemimpin dan tokoh agama. Dalam kasus Covid-19, pemimpin agama bekerja sama dengan pemerintah berhasil mengurangi penyebaran wabah ini.

Antara lain, pembatalan acara keagamaan yang mengundang kerumunan massa, menggunakan masker hingga vaksinasi. Berkaca dari kasus Covid-19,  peserta pertemuan di Vatikan menggarisbawahi, tokoh agama berperan besar meningkatkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan.

Bahkan jauh sebelum ada wabah Covid-19, di Tanzania ada kisah sukses tentang peran ulama dalam menjaga alam. Di sebuah pulau lepas di pantai Tanzania, nelayan biasa menggunakan dinamit untuk menangkap ikan.

 
Berkaca dari kasus Covid-19,  peserta pertemuan di Vatikan menggarisbawahi, tokoh agama berperan besar meningkatkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan.
 
 

Ketika aktivis lingkungan setempat mencoba membujuk nelayan untuk berhenti menggunakan metode ini, mereka gagal. Bahkan ketika pemerintah melarang penggunaan dinamit, nelayan tetap tidak melakukannya.

Ulama setempat yang memiliki pengaruh besar pada nelayan yang umumnya Muslim, berkeliling dengan mengutip ayat Alquran yang menyerukan pelestarian alam. Nelayan mendengar seruan itu, dan tak ada lagi penangkapan ikan dengan dinamit.

Kepada The Christian Science Monitor pada 2007, seorang nelayan menuturkan, "Saya sadar, penangkapan ikan dengan dinamit merusak lingkungan dan aspek konservasi ini bukan dari orang kulit putih tetapi dari Alquran."

Lalu apa kata pemimpin agama yang menandatangani Dokumen Vatikan? Iman, sebut salah satu butir dari dokemen itu, mengajarkan kewajiban merawat kehidupan dan lingkungan. Dengan kata lain, surga atau neraka di dunia diciptakan manusia.

Sebagai rencana aksi, pemimpin agama, antara lain, menyerukan agar lembaga keagamaan dan pendidikan memperkuat dan memprioritaskan kurikulum pendikan lingkungan terpadu. Barang dan jasa yang dibeli lembaga keagamaan harus ramah lingkungan.

 
Sebagai rencana aksi, pemimpin agama, antara lain, menyerukan agar lembaga keagamaan dan pendidikan memperkuat dan memprioritaskan kurikulum pendikan lingkungan terpadu.
 
 

Kepada pemimpin negara yang akan bertemu di Glasgow, tokoh agama menyerukan segera dicapai tingkat nol emisi.

Mereka mendesak negara kaya bertanggung jawab dan berinisiatif, dengan membuat perubahan serius untuk melindungi lingkungan. Negara kaya juga diminta memberikan bantuan keuangan buat negara miskin untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

Selanjutnya, mereka mendesak pemimpin negara meningkatkan kerja sama internasional untuk transisi ke energi bersih dan penggunaan lahan dengan cara tidak merusak dan dengan pembiayaan yang bertanggung jawab.

Pemimpin agama seperti Seikh Al-Azhar dan Paus Vatikan, tentu tak dapat memaksakan solusi radikal pada masalah lingkungan. Ini sangat bergantung pada pemimpin negara, terutama negara besar, yang telah menyumbang persentase polusi terbesar.

Merekalah yang mempunyai otoritas politik dan ekonomi demi menyelamatkan planet bumi. Namun, kesadaran dan partisipasi pemimpin keagamaan membunyikan lonceng bahaya tentang kerusakan alam, mempunyai pengaruh pada perilaku masyarakat.

Juga berdampak positif pada penganut agama untuk menghemat sumber daya alam dan membuat pilihan di bidang energi yang lebih ramah lingkungan.


×