Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Syifa Fauzia. | Republika/Edwin Dwi Putranto

Uswah

17 Oct 2021, 04:40 WIB

Majelis Taklim adalah Aset Bangsa

Fenomena Covid-19 membuat majelis taklim kian beradaptasi lewat beragam kajian secara virtual.

 

OLEH IMAS DAMAYANTI

 

Dari masa ke masa, peran majelis taklim begitu sentral bagi umat. Majelis taklim bahkan telah bergerak maju dengan spirit keagamaan yang menekankan pada wawasan global.

Sebagai Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Syifa Fauzia mengenal betul semangat mengkaji keagamaan dari para jamaah. Majelis taklim sebagai sebuah lembaga pendidikan berbasis keagamaan nonformal yang sebelumnya acap kali dipandang sebelah mata mulai bertransformasi ke arah yang lebih maju.

“Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kualitas ustazah, para pengajar, mubaligh-mubalighahnya. Jangan sampai majelis taklim dipandang sebelah mata karena majelis taklim adalah aset umat, aset bangsa,” kata Syifa saat dihubungi Republika, Rabu (13/10).

Dalam Muktamar BKMT yang baru saja selesai, Syifa Fauzia kembali didapuk menjadi Ketua Umum BKMT. Untuk melangkah ke depan, Syifa akan berupaya melakukan pendataan organisasi mengingat BKMT yang telah tersebar di 33 provinsi dan ribuan kecamatan seluruh Indonesia. Tak hanya itu, Syifa bertekad agar majelis taklim bisa berkontribusi kepada bangsa dari segi perbaikan ekonomi. 

Dia menjelaskan, pandemi memang berdampak kepada majelis taklim. Namun demikian di balik itu semua terdapat hikmah yang dapat dipetik dari hadirnya sebuah musibah.

Syifa menyebut, fenomena Covid-19 membuat majelis taklim kian beradaptasi lewat beragam kajian secara virtual. Padahal, kata dia, mayoritas jamaah majelis taklim tradisional (90 persen) didominasi kalangan usia 50 tahun ke atas. “Dengan adanya pandemi, surprisingly ada adaptasi besar dari majelis-majelis taklim, kita belajar bisa melalui virtual dan Zoom,” kata dia.

Bagi Syifa, upaya pendampingan kepada para jamaah majelis taklim merupakan sebuah amanah yang mulia. Dengan berbagai pengalaman yang berharga  saat memimpin BKMT pada era sebelumnya, dia meyakini majelis taklim tidak hanya memiliki spirit kajian keagamaan saja melainkan juga berwawasan universal dan global.

“Bagi saya, BKMT dapat memberikan peranan yang lebih besar ke depannya,” kata dia.

photo
Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim Syifa Fauzia memberikan sambutan pada acara milad ke-38 tahun di Gedung Sasana Kriya TMII, Jakarta, Selasa (5/2). Perayaan milad ke-38 tahun Badan Kontak Majelis Taklim tersebut bertemakan Membangun Bangsa Menuju Kejayaan Umat. - (Republika/Putra M. Akbar)

Lingkungan dan keluarga

BKMT tak akan pernah lepas dari peran besar almarhumah Ustazah Tutty Alawiyah yang merupakan sosok ulama besar perempuan di Indonesia. Sedari kecil, Syifa telah mengenal dan dekat dengan lingkungan majelis taklim. Meski demikian, Syifa enggan dipanggil sebagai ustazah. Dia lebih nyaman disebut sebagai penggiat majelis taklim.

Jiwa yang dekat dengan majelis taklim dan keumatan ini pun didukung penuh oleh keluarga. Syifa bercerita bagaimana peran dan dukungan suami sangat membuatnya leluasa menjalankan berbagai aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan di BKMT.

Kultur yang dia dapatkan dari ibu dan keluarganya tentang majelis taklim pun  diperkenalkan kepada anak-anaknya.“Mereka tidak aneh lagi jika ibunya berada di tengah orang-orang dan kaum ibu majelis taklim,” kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Syifa Fauzia (syifaf)

PROFIL

Nama lengkap: Syifa Fauzia

Tempat, tanggal, lahir: Jakarta, 14 Mei 1984

Riwayat pendidikan: S1 Bachelor in Film and TV Curin University Western Australia, S2 Master Degree In Public Communication and Public Relation University London

Riwayat aktivitas: Ketua IV BKMT (2011), Ketua Umum BKMT Terpilih, Ketua Hijabers Community Indonesia, Wakil Rektor III Universitas Islam As-Syafiiyah


×