Webinar internasional Tantangan dan Peluang Perbankan Syariah di Era Digital yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar Indonesia Jakarta pada Kamis 14 Oktober 2021 | Erdy Nasrul
14 Oct 2021, 19:25 WIB

Agar Bank Syariah Survive di Era Digital

Seminar Universitas Al-Azhar Indonesia menjadi inspirasi mengembangkan perbankan syariah.

JAKARTA — Bank Syariah harus berinovasi dengan mengembangkan digital banking dengan berbagai kemudahan pelayanan. Basisnya adalah pandangan visioner seperti yang dilakukan para bankir.

Pengawas Spesialis TI - Departemen Pengawasan Bank Syariah (DPBS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bayu Endrasasana mencontohkan seorang Bill Gates. 27 tahun lalu Gates menyaksikan kantor – kantor bank begitu ramai dikunjungi orang. Mereka menyetor dan mentransfer uang, membayar kredit, dan mengajukan pembiayaan. 

Ketika itu orang asyik saja menjalani rutinitas demikian. Namun seorang Bill Gates punya pandangan yang jauh kedepan. Pengusaha kelas dunia ini memprediksi pelayanan perbankan tadi dapat dilakukan nasabah tanpa harus datang ke bank. “Kita membutuhkan perbankan, tapi kita tak butuh (datang ke kantor) bank lagi. Apakah kamu berpikir suatu saat nanti kita akan membuka rekening bank atau mengajukan pinjaman tanpa harus hadir ke bank?” kata Bill Gates yang dikutip Bayu.

Prediksi gates bukan isapan jempol. Itu benar terjadi. “Sekarang orang semakin mudah mengakses layanan perbankan berbasis teknologi tanpa harus capek ke bank,”ujar Bayu dalam webinar internasional Tantangan dan Peluang Perbankan Syariah di Era Digital yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Menyetor uang dapat dilakukan dengan memanfaatkan mesin anjungan tunai mandiri untuk setor kas (cash deposit machine/CDM). Bayu menjelaskan masih banyak bank umum syariah yang belum memiliki layanan tersebut. Padahal, dengan adanya CDM, nasabah semakin mudah menyetorkan uangnya tanpa harus antre di loket teller.

Menarik uang juga sudah dilakukan dengan mesin ATM. Bahkan kini pembayaran dan transfer sudah bisa dilakukan dengan menggunakan mobile banking. Ini merupakan sesuatu yang sudah diprediksi seorang Bill Gates sejak lama. 

Prediksi kedua adalah Bank 4.0 yang disampaikan seorang praktisi perbankan Brett King. Kata dia, layanan perbankan (banking) harus terjadi dimana dan kapan saja yang kamu butuhkan. Pelayanan perbankan dan keuangan terbaik terjadi real time dan berdasarkan analisis perilaku konsumen, menggunakan prinsip data raksasa, mobilitas, dan gamifikasi.

Prediksi ketiga adalah dari Mark Zuckerberg dengan Kerajaan Facebooknya. Dia berani membeli Whatsapp dengan harga ratusan triliun. “Kalau kita mungkin berpikir cukup dengan uang Rp 1 triliun sudah bisa bikin aplikasi yang canggih,” kata Bayu.

Namun Mark tidak demikian. Dia lebih memilih membeli Whatsapp untuk mendapatkan user experience. Nantinya akan dikembangkan lagi untuk berbagai layanan. Kini Facebook juga sudah mempunyai mata uang kripto bernama Libra. Nantinya sangat mungkin pengguna whatsapp dapat melakukan berbagai pembayaran, transfer, penjualan, pembelian, dan berbagai layanan perbankan, tanpa harus keluar dari aplikasi Whatsapp. Bisa saja nantinya mobile banking akan tergantikan dengan layanan – layanan di Whatsapp.

Berdasarkan tiga prediksi dan pengalaman mereka di atas, umat Islam harus memiliki pandangan yang jauh lebih visioner. Harus ada inovasi dan kreasi menghadirkan layanan perbankan syariah yang lebih mudah dan cepat diakses masyarakat. Mereka tak lagi harus ribet berkomunikasi dengan operator bank. Dengan sejuta kemudahan layanan, maka perbankan syariah akan menjadi daya tarik. Akan ada banyak orang nantinya yang beralih ke layanan bank syariah. “Kalau sudah begitu, maka insya Allah bank syariah dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan survive,” katanya.

Untuk mewujudkan kreasi dan inovasi layanan perbankan syariah yang demikian, Bayu menjelaskan semua pihak harus berkolaborasi. Menghasilkan perubahan besar harus dimulai dengan kerja sama dan saling menguatkan.

Webinar internasional

Webinar Tantangan dan Peluang Bank Syariah diikuti oleh 160 orang peserta secara daring. Inisiatornya adalah dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al Azhar Indonesia yang dipimpin oleh Wakil Dekan FEB, Ade Wirman Syafei.

Kegiatan webinar ini dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Prof Asep Saefuddin.Tampil sebagai pembicara kunci dalam webinar internasional ini adalah Bayu Endrasasana. Ada pula tiga orang pembicara, yaitu praktisi industri perbankan syariah di Malaysia Ahmad Hamzah Mat Daud, Direktur Manajemen Inovasi dan Program Universitas Al-Azhar Indonesia Hanny Nurlatifah, dan Head of Shariah Group Link Aja Donny Fernando. 

Webinar ini sendiri dimoderatori oleh Sisca Debyola Widuhung, Kepala Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Al- Azhar Indonesia. Pada akhir sesi webinar dilakukan diskusi dan Tanya jawab antara peserta dengan seluruh pembicara.


×