Teknisi dari PT. XL Axiata Tbk melakukan penghormatan kepada bendera merah putih saat pengibaran bendera di puncak menara BTS setinggi 50 meter di Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (15/8/2019). | ANTARA FOTO
14 Oct 2021, 14:51 WIB

Angin Segar Industri Telekomunikasi 

Kehadiran jaringan 4G/LTE bukan sekadar sebagai penghubung daerah, tapi juga dapat meningkatkan taraf kehidupan.

Konsolidasi bisnis antara operator Indosat Ooredoo dengan Hutchison 3 Indonesia memberi angin segar bagi proses transformasi digital di Indonesia. Terutama dalam hal pemerataan jaringan 4G/LTE yang merupakan persyaratan mutlak untuk akses internet yang dibutuhkan dalam transformasi digital. 

Tugas dan pekerjaan pemerintah menyediakan jaringan 4G/LTE, khususnya di daerah yang selama ini tak terjangkau, diharapkan akan terbantu oleh aksi korporasi berupa konsolidasi operator. Hingga 2023 mendatang, pemerintah tengah menggenjot pembangunan infrastruktur guna pemerataan jaringan 4G/LTE hingga pelosok daerah yang selama ini belum terjangkau sinyal operator.  

Menurut Dosen ITB sekaligus Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB), Dr Ir Ian Joseph Matheus Edward, saat ini, permintaan akan akses internet terus meningkat pesat. Salah satunya, terdorong pula oleh terjadinya pandemi Covid-19. “Baik untuk silaturahmi, mempererat ikatan keluarga, pendidikan, dan pembelajaran, perdagangan maupun hiburan,” ujarnya dalam diskusi terbatas telekomunikasi yang digelar oleh Indonesia Technology Forum, Rabu, (13/10). 

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memperlihatkan peningkatan pemakaian akses internet untuk belanja daring, hiburan, hingga menunjang hobi bermain gim. Catatan World Bank 2021 menunjukkan, Indonesia merupakan negara di urutan kelima paling aktif di dunia maya, di bawah Filipina, Brazil, Thailand dan Kolombia. Penetrasi akses 4G/LTE saat ini, menurut Ian, bahkan telah mencapai 98 persen. 

Angka ini melebihi Malaysia, Brunei, Vietnam, dan Filipina. Dengan modal seperti ini seharusnya operator lebih mudah untuk melakukan ekspansi jaringan 4G/LTE. 

Kehadiran jaringan 4G/LTE bukan sekadar sebagai penghubung sebuah daerah dengan wilayah lain yang lebih luas. Tapi, juga dapat meningkatkan taraf hidup dan perekonomian. Sehingga konsolidasi ini dapat mempercepat pemerataan pembangunan, khususnya di daerah 3T (terdepan, terluar , tertinggal). 

Kalaupun ada tantangan, Ian melanjutkan, lebih ke arah jangkauan area Indosat Ooredoo dan Tri yang belum seluas dan semasif Telkomsel. Selama ini, baik Indosat Ooredoo maupun Tri umumnya baru memenuhi seputaran Indonesia bagian Barat dan sedikit Indonesia Tengah.  

Salah satu bentuk konsolidasi terkait pembangunan jaringan 4G/LTE, menurut Ian adalah dengan melakukan relokasi BTS 4G/LTE. Namun tak sekadar memindahkan. “Tetapi juga sembari mempelajari karakter di daerah yang akan diekspansi,” ujar Ian. 

photo
Pekerja melakukan perawatan menara Byte Transfer System (BTS) milik Tower Bersama di Jakarta, Senin (7 ). Ekonomi Indonesia tumbuh 5,02 persen di kuartal III 2016, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) salah satu pendorong pertumbuhan dari pembelian pulsa ponsel saat lebaran. Secara tahunan (year on year) kenaikan tertinggi dari sektor informasi dan telekomunikasi sebesar 9,2 persen. Foto: Tahta AidillaRepublika. - (Tahta Aidilla/Republika)

Mempelajari karakter yang dimaksud adalah agar skala ekonomi, bisnis dan penggunaannya benar-benar memberi manfaat. Konsolidasi juga dapat mendorong efisiensi dan efektifitas sumber daya yang dimilki keduanya sehingga mampu membangun dengan cakupan yang lebih luas. 

Menurut Ian, salah satu prasyarat merger adalah harus bersedia melakukan ekspansi ke daerah lain. Pemerintah harus menagih secara rinci pelaksanaan perluasan layanan mereka. 

Karena lisensi penyelenggaraan telekomunikasi khususnya linsensi selular 4G/LTE adalah lisensi nasional. Sehingga layaknya semua operator menyediakan jaringan di seluruh Indonesia. 

 
Pemerintah juga harus menyiapkan ekosistem yang mendukung pemakaian jaringan 4G/LTE. Di antaranya ketersediaan pasokan bahan bakar atau listrik, pemberdayaan sektor bisnis masyarakat dan UMKM, pengoperasian logistik dan transportasi.
 
DR IR IAN JOSEPH MATHEUS EDWARD
Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB) 
 
 

Gencarkan Pemanfaatan Ruang Digital 

photo
Pengusaha batik memotret produknya untuk diunggah di pasar digital di Galeri Batik Sengguruh, Malang, Jawa Timur, Sabtu (17/7/2021). Pengusaha batik setempat berupaya menyiasati Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dengan menjual produknya sebagai suvenir melalui pasar digital. - (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

Pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terus berlangsung di Indonesia, juga perlu diimbangi dengan kecakapan digital masyarakat. Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate menyebutkan, setelah tersedia layanan BTS 4G, Kementerian Kominfo secara simultan juga menggencarkan sosialisasi literasi digital kepada masyarakat guna pemanfaatan ruang digital. 

“Setelah tersedia layanan BTS 4G maka selanjutnya memanfaatkannya secara cerdas dan berguna melalui pemanfaatan ruang digital untuk ekonomi digital, UMKM, dan ultra mikro. Tak ketinggalan juga untuk layanan pendidikan, kesehatan dan yang lainnya," ujarnya dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Akses Telekomunikasi dan Peresmian BTS 4G di Provinsi Papua Barat, yang berlangsung di Manokwari, pekan lalu. 

Untuk pemanfataan infrastruktur TIK dalam aktivitas ekonomi digital, Johnny berharap, masyarakat dapat mengambil bagian penting di dalam ruang digital. “Untuk itu tentu kerja literasi harus kita lakukan bersama-sama, karena masyarakatnya mungkin sebagian sudah tahu tapi mungkin sebagian masih yang belum," katanya 

Menkominfo menjelaskan, pemerintah saat ini memiliki program kecakapan digital tingkat dasar, menengah dan lanjutan. Pelatihan tingkat paling dasar adalah melalui Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). 

Kemudian, ada pula pelatihan tingkat menengah melalui program Digital Talent Scholarship (DTS) yang dikhususkan bagi kalangan muda, dan Digital Leadership Academy (DLA) untuk menghasilkan master-master, mentor-mentor, dan pembuat kebijakan di daerah masing-masing. 

Menurut Johnny, Kementerian Kominfo menargetkan 12,5 juta masyarakat akan mengikuti program GNLD untuk tahun 2021. Terdapat empat kurikulum yang disediakan, antara lain Digital Skills, Digital Ethics, Digital Safety, dan Digital Culture.  

Melalui Program GNLD, pemerintah menginginkan agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital di berbagai sektor. Mulai dari, sektor pendidikan melalui tele-education dan sektor kesehatan melalui tele-health untuk berkonsultasi serta melakukan proses belajar melalui ruang digital. 


×