Ilustrasi pelajar. | Republika/Thoudy Badai
14 Oct 2021, 09:28 WIB

Potensi Hipertensi dan Penyakit Mental Intai Pelajar

kekhawatiran terdampaknya hipertensi terhadap pelajar, bisa terjadi karena pola makan.

BOGOR -- Pada survei 'Persepsi Masyarakat terhadap Covid-19' yang dirilis Tim Pakar IPB University pada Agustus 2021, muncul penyakit baru pada masyarakat Kota Bogor selama pandemi Covid-19, yakni gangguan mental dan hipertensi. Kedua penyakit tersebut, tidak menutup kemungkinan juga bisa terjadi di kalangan pelajar.

Pengamat Pendidikan dari Komnas Pendidikan, Andreas Tambah, mengatakan, sebuah kasus pelajar SMA di Kota Administrasi Jakarta Barat, sempat terkena strok beberapa tahun lalu. Meski belum memiliki data lain terkait adanya pelajar yang terkena penyakit hipertensi, artinya potensi pelajar terkena penyakit itu tetap ada.

“Itu artinya, potensi itu tetap ada. Potensi kena darah tinggi atau strok itu tetap terbuka. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tetap bisa terjadi,” ujar Andreas kepada Republika, Rabu (13/10).

Berdasarkan pengamatannya, kekhawatiran terdampaknya hipertensi terhadap anak-anak, bisa terjadi karena pola makan. Melihat saat ini makanan instan yang berpotensi meningkatkan kolestrol, sangat mudah didapat.

Selain itu, selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di rumah, para pelajar terhitung kurang melakukan banyak pergerakan. “Karena itu, pembakaran lemak kurang sempurna, sehingga itu bisa menambah atau terjadinya penumpukan kolestrol pada setiap individu,” ucapnya.

Terkait adanya penyakit gangguan mental selama pandemi Covid-19, Andreas mengatakan, hal itu bisa terjadi karena banyak orang yang di rumah saja mengalami stres. Diawali dari orang tua yang tidak bisa mengajarkan anaknya, ditambah dengan kondisi yang memaksa para keluarga untuk tetap di rumah saja.

Sehingga, kata dia, potensi gesekan karena salah paham atau kejenuhan sangat tinggi. “Sampai saat ini memang belum ada penelitian temtang itu. Namun, dari keluhan masyarakat mengatakan saya stres menghadapi anak-anak di rumah,” ujar Andreas.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, Hanafi menjelaskan, selama proses PJJ hampir dua tahun ini, banyak permasalahan yang dihadapi sesuai stratanya. Sehingga, Disdik Kota Bogor mengadakan bimbingan teknis untuk para guru mata pelajaran dan guru bimbingan konseling (BK), untuk meng-cover permasalahan yang ada. "Termasuk permasalahan psikologis anak-anak yang terganggu," ujarnya.

Di samping itu, kata dia, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor juga bekerja sama dengan RS Marzoeki Mahdi untuk membantu menangani psikologis anak-anak yang tidak dapat ditangani oleh guru BK.

Diketahui, Tim Pakar IPB University merilis survei, pandemi Covid-19 yang memberikan dampak bagi warga Kota Bogor, yakni ada yang mengalami gangguan mental serta hipertensi. Hasil survei tersebut dipresentasikan di Balai Kota Bogor, Ahad (15/8).


×