Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
14 Oct 2021, 03:30 WIB

Hakikat Kekayaan

Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan kita akan memahami hakikat kekayaan.

OLEH SYAHRUL

Suatu hari Tsa'labah Ibnu Hatib Al-Ansari mendatangi Rasulullah SAW. Ia meminta didoakan agar dimudahkan rezekinya.

Konon Tsa'labah dikenal sebagai orang yang sangat miskin. Hanya memiliki satu kain untuk shalat yang digunakan bergantian dengan istrinya. Nabi Muhammad SAW kemudian menasihati agar Tsa'labah lebih bersyukur. Mensyukuri yang ada itu jauh lebih baik daripada memiliki banyak tanpa syukur.

Tampaknya Tsa'labah tidak putus asa. Keinginannya untuk kaya sangat kuat. Pada kesempatan yang lain, dia datang lagi kepada Nabi Muhammad SAW. Sampai akhirnya Rasulullah mendoakan, setelah Tsa'labah berjanji akan memberikan hartanya kelak kepada orang-orang yang berhak.

Singkat cerita, Tsa'labah yang miskin papa berubah menjadi kaya raya. Seperti biasa, kekayaan yang melenakan mencelakakan Tsa'labah.

Jauh hari Nabi Muhammad SAW sudah mengingatkan kita akan memahami hakikat kekayaan, "Hakikat kaya bukan dari banyaknya harta, melainkan dari kekayaan hati (ghina-al-nafs)." Sebuah konsep dan cara pandang yang indah.

Hati yang bersyukur akan tetap bahagia, meski secara kasat mata kekurangan. Sementara, hati yang gemuruh, rakus, tidak akan pernah puas, meski terlihat mentereng. Karena kekayaan yang hakiki tidak terletak pada benda.

Buya Hamka di dalam bukunya, Tasawuf Modern, menjelaskan, hakikat kekayaan terletak pada hajat dan keperluan. Orang yang paling kaya adalah orang yang paling sedikit keperluannya. Siapa yang paling banyak keperluannya, dialah orang yang paling miskin. Karena itu, yang paling kaya hanyalah Allah SWT.

Menjadi kaya bukan berarti hidup miskin atau menjauhi harta benda. Sekali lagi, kekayaan tidak diukur dari benda. Siap menerima kekayaan yang berlipat-lipat ganda, tapi tidak kecewa jika jumlahnya sedikit. Karena pada hakikatnya harta berasal dari Allah SWT dan akan kembali pada-Nya. 

Hamka menutup nasihatnya dengan ungkapan yang dahsyat bahwa harta tidak dicintai karena dia harta. Harta hanya dicintai sebab dia pemberian Tuhan yang harus dipergunakan untuk hal-hal yang berfaedah.

Banyak sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikaruniakan harta yang berlipat-lipat banyaknya. Sebut, misalnya, Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Umar bin Khattab, dan lain-lain. Namun, tidak sedikit juga yang miskin papa, seperti sahabat Ali bin Abi Thalib, Bilal bin Rabbah, Julaibib, dan lain-lain.

Mereka semuanya tetap menjadi manusia-munusia pilihan dan generasi terbaik. Bahkan, Nabi Muhammad SAW pernah mendengar derap langkah terompah Bilal di surga.

Jika kekayaan diukur dengan benda, kita akan seperti musafir kehausan yang meminun air laut. Makin diminum, makin haus. Akan mencari gunung emas kedua, ketiga, keempat setelah gunung emas pertama sudah di rekening. Di atas langit masih ada langit. Perburuan yang melelahkan sampai mulut ini disumpal dengan tanah.

"Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang saleh,” bisik Nabi Muhammad SAW kepada sahabatnya.


×