Pasukan Angkatan Udara AS menjalankan tugas di Pusat Komando Operasional dan Keamanan di Colorado Springs. Sataun tersebut dibentuk guna menangkal serangan siber. | REUTERS
14 Oct 2021, 03:45 WIB

Pertemuan Kejahatan Siber Digelar Tanpa Rusia

Banyak kelompok penjahat siber ransomware yang bermarkas di Ukraina dan Rusia.

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) menjadi tuan rumah pertemuan daring 30 negara yang membahas kejahatan siber, mulai Rabu (13/10) hingga Kamis (14/10). Namun, AS tidak mengundang Rusia dalam perhelatan ini.

"Kami telah berdiskusi dengan aktif dengan Rusia, tapi khusus di forum ini mereka tidak diundang untuk berpartisipasi," kata pejabat Pemerintah AS yang dikutip Reuters, Rabu (13/10).

Ia menambahkan, hal ini tidak menghalangi Rusia untuk berpartisipasi pada kegiatan berikutnya. Pertemuan yang bertujuan mengatasi pesatnya pertumbuhan ancaman ransomware dan kejahatan siber lainnya. Menurut pakar keamanan siber, banyak kelompok penjahat siber ransomware yang bermarkas di Ukraina dan Rusia.

Pejabat itu mengatakan, AS terlibat langsung dengan Rusia dalam isu ransomware di bawah kerangka US-Kremlin Experts Group. Kelompok para ahli dua negara itu dipimpin Gedung Putih dan didirikan Presiden AS Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Ransomware adalah salah satu serangan perangkat lunak dan pelakunya mengancam untuk mempublikasi atau memblokir suatu data atau sistem komputer. Pelaku biasanya mengancam meminta uang tebusan tersebut.

photo
Pasukan Angkatan Udara AS menjalankan tugas di Pusat Komando Operasional dan Keamanan di Colorado Springs. Sataun tersebut dibentuk guna menangkal serangan siber. - (REUTERS)

Para peserta pertemuan kali ini akan membahas topik-topik seperti mengatasi penyalahgunaan mata uang virtual untuk membayar uang tebusan, menghukum penjahat ransomware, dan menggunakan diplomasi untuk mengatasi ransomware. Mereka juga membahas cara membantu negara-negara menjadi lebih tangguh dalam menghadapi serangan itu.

Selain AS, empat negara lain yakni India, Australia, Jerman dan Inggris, akan memimpin pembahasan dalam topik-topik seperti disrupsi, mata uang virtual dan diplomasi. Negara-negara yang mengikuti pertemuan ini antara lain Kanada, Prancis, Inggris, Brasil, Meksiko, Jepang, Ukraina, Irlandia, Israel, Afrika Selatan, dan Uni Eropa.

Presiden Joe Biden mengangkat isu respons kejahatan siber hingga ke level tertinggi pejabat pemerintah. Ini dilakukan setelah serangkaian serangan mengancam stabilitas pasokan makanan dan energi AS. Mei lalu, para peretas mengganggu aliran bahan bakar di AS ketika mereka mengincar pipa yang dikelola Colonial Pipeline.

Pemerintah Biden berharap kelompok informal baru yang dinamakan Counter-Ransomware akan meningkatkan tekanan diplomatik termasuk pembicaraan langsung dengan Rusia. Hal serupa juga diharapkan melibatkan aliansi Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan negara-negara kaya yang tergabung dalam G-7.

Sumber : Reuters


×